Monday, February 27, 2012

Teori Psikologi (4) Konsepsi Manusia Dalam Psikologi Humanistik


Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behaviorisme.
Pada behaviorisme : manusia hanyalah mesin yang dibentuk lingkungan, manusia menjadi robot tanpa jiwa, tanpa nilai.
Pada psikoanalisis seperti kata Freud “We see a man as a savage beast (1930:86), manusia melulu dipengaruhi oleh naluri primitifnya.
Keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia.
Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna dan pertumbuhan pribadi. Inilah yang diisi oleh psikohumanistik. “Humanistic psikology is not just the study of ‘human being’; it is a commitment to human becoming,” tulis Floyd W. Matson (1973:19) yang agak sukar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisis Neo Freudian (sebenarnya anti-Freudian) seperti Adler, Jung, Rank, Slekel, Ferenczi; tetapi mengambil dari fenomenologi dan eksistensialisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain”. (Brouwer, 1983:14). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Roger, yang boleh disebut sebagai bapak Psikologi Humanistik. 

Menurut Alfred Schutz, tokoh sosiologi fenomenologis, pengalaman subyektif ini dikomunikasikan oleh faktor sosial dalam proses intersubjectivitas. “Untuk memahami makna subjektif anda, aku harus menggambarkan arus kesadaran anda mengalir berdampingan dengan arus kesadaranku. Dalam gambaran inilah aku harus menafsirkan dan membentuk tindakan intensional anda ketika anda memilih kata-kata anda.” (Schutz, 1970 : 167) intersubjectivitas diungkapkan pada eksistensialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan diri dengan orang lain, atau apa yang disebut Martin Buber “I-Thou Relationship”. Istilah yang disebut terakhir ini menunjukkan hubungan pribadi dengan pribadi, bukan pribadi dengan benda; subyek dengan subyek – bukan subyek dengan obyek. Manusia dalam pandangan ini hanya tumbuh dengan baik dalam “I-thou realtionship” dan bukan pada “I-it relationship”. Disinilah faktor oranglain menjadi penting; bagaimana reaksi mereka membentuk bukan saja konsep diri kita, tetapi juga pemuasan – apa yang disebut Abraham Maslow – “Growth Needs”. 

Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesama manusia. Yang paling penting bukan apa yang didapat dari kehidupan, tetapi apa yang dapat kita berikan untuk kehidupan. “One’s life can be fulfilling only if it involves socially constructive values and choices”. (coleman dan Hammen 1974:36) jadi hidup kita baru bermakna hanya apabila melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang konstruktif secara sosial. 

Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mazhab yang lain. Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Freud pernah mengirim surat kepada princess Bonaparte dan menulis bahwa pada saat manusia bertanya apa makna dan nilai kehidupan, pada saat itu ia sakit. Salah, kata Victor E. Frankl, manusia justru menjadi manusia ketika mempertanyakan apakah hidupnya bermakna. Selanjutnya Frankl berkhotbah :
I think I is time to recognize the fact that man is more than just a mechanism or the outcome of conditioning process, to recognize the humanness of man, to recognize that man is being in steady search of meaning, and that his heart is restless until the he finds meaning in his life (Frankl, 11967:185), (saya pikir sudah saatnya kita mengakui kenyataan bahwa manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman, untuk mengakui kemanuisaan manusia, untuk mengakui bahwa manusia adalah wujud yang selalu mencari makna, dan bahwa hatinya selalu resah sebelum menemukan makna dalam hidupnya)
Khotbah Frankl menyimpulkan asumsi-asumsi psikologi humanistik : keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Sebagai penjelasan, kita akan menyajikan penjabaran asumsi-asumsi ini dalam pandangan Carls Roger.
Carls Rogers menggarisbesarkan pandangan humanism sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen : 1974:33) :

  1. Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi, dimana dia – Sang Aku, Ku, atau Diriku (The I, me, or my self) – menjadi pusat. Perilaku manusia berpusat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang identitas dirinya yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan fenomenal (phenomenal field). Medan keseluruhan pengalaman subyektif seorang manusia, yang terdiri dari pengalaman-pengalaman Aku dank u dan pengalaman yang “bukan aku”.
  2. Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
  3. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya – ia bereaksi pada “realitas” seperti yang dipersepsikan olehnya dan dengan cara yang sesuai dengan konsep dirinya.
  4. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri – berupa penyempitan dan pengkakuan (rigidification) persepsi dan perilaku penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan ego seperti rasionalisasi.
  5. Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri.
Sumber : Buku psikologi Komunikasi 30-32.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...